foto sorotgunungkidul“Sro… Nduk, tuntunen simbok sedelo, (Sro.. Anakku, tuntunlah Simbok sebentar)”. Masro, wanita paruh baya ini bergegas mendekat kearah sumber panggilan. Suara itu ternyata berasal dari dalam sebuah kamar yang hanya berisi dipan beralaskan tikar dan tiga buah bantal yang dibungkus karung.

Diatasnya terbaring raga seorang nenek tua yang sudah bertahun-tahun menderita stroke hingga menyebabkan sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Saat dipapah oleh Masro, menantunya, terlihat dia kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya yang kurus.

Perempuan itu bernama Rujilah. Nenek berusia 70 tahun ini sekarang melakukan seluruh aktivitasnya seperti buang air, makan dan mandi di atas dipan kamarnya yang penuh debu. Tidak jauh dari Rujilah tidur, nampak seorang lelaki tua yang terbaring di ranjang ruang utama. Dialah Samsuri, kakek renta berusia 80 tahun yang setahun lalu lumpuh total. Bahkan, setelah stroke menggerogoti seluruh tubuhnya, Samsuri masih harus menerima takdir bahwa kedua bola matanya tak berfungsi lagi. Kakek ini sekarang buta total.

Ya, satu rumah kini dihuni oleh dua orang yang benar-benar sekedar menggeser tubuhnya saja tak mampu lagi. Pasangan suami istri ini tinggal di Padukuhan Sumber Lor Rt 04 Rw 04, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul. Namun sejak beberapa bulan terakhir ini, Masro (45) menantu dari anaknya yang pertama rela meninggalkan suami dan anaknya di ibukota untuk merawat Samsuri dan Rujilah.

“Suami saya hanya bekerja sebagai buruh bangunan, kalau ada panggilan ya kerja, kalau tidak ada ya menganggur. Jadi untuk keperluan sekolah anak dan hidup sendiri saja kita kesulitan. Yang penting saya rawat Simbok sama Bapak, karena kalau secara materi kami tidak bisa memberikan,” kata Musro sambil mengusap-usap kaki bapak mertuanya yang hanya bisa merintih diatas dipan.

Samsuri dan Rujilah mempunyai tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Namun ketiganya tidak bisa diandalkan dalam mencukupi kebutuhan ekonomi orangtuanya.

Jangankan membangun rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan hampir roboh itu, sedangkan untuk berobat saja keluarga ini sudah habis-habisan. Selama lima bulan terakhir, Masro hanya diberi kiriman uang oleh adik iparnya yang juga bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta sebesar Rp 300.000,-. Uang tersebut langsung habis dalam waktu sekejap untuk keperluan membeli obat, pampers dan beras untuk Samsuri dan Rujilah.

“Sebulan untuk membeli pampers habis Rp 360 ribu, obat Rp 200 ribu. Belum buat beli beras. Kalau lauk biasanya dikasih tetangga atau kalau tidak ramban (memetik) daun singkong atau pepaya di kebun,” ujar Masro lirih.

Parahnya, pasangan suami istri yang kondisinya sudah tua, lumpuh dan rumahnya hampir roboh ini tidak pernah dapat bantuan, dalam hal ini BLT dan BLSM.

“Dapat sekali BLSM, itupun karena dikasih sama tetangga yang sudah mampu. Untuk berobat, Bapak ada kartu Jamkesta namun simbok tidak punya kartu sama sekali,” ucapnya.

Dengan tulisan ini diharapkan perhatian dan sumbangan dari masyarakat bahkan pemerintah untuk membantu pasangan Samsuri dan Rujilah. “Siapapun tidak mau ditakdirkan seperti ini. Tapi ini harus kita lewati. Dan saya sudah habis-habisan, tidak ada apa-apa lagi yang bisa kami jual untuk berobat bapak dan simbok,” pungkas Masro.

Sumber :http://www.sorotgunungkidul.com/berita-gunungkidul-5211-kisah-pilu-pasangan-lumpuh-dan-buta-di-rumah-hampir-roboh.html#ixzz2tovtsiS3

TINGGALKAN KOMENTAR